Working Capital Management and Short-term Financing

Working Capital Management and Short-term Financing [Manajemen Modal Kerja dan Pembiayaan Jangka Pendek]

Mengelola Aset dan Kewajiban Lancar

Masalah pembiayaan jangka pendek muncul dalam pengelolaan investasi aset lancar [disebut: modal kerja] dan penggunaan utang jangka pendeknya.  Sedangkan modal kerja neto [net working capital atau NWC] adalah selisih antara aset lancar dan kewajiban lancar.  Dengan memahami konsep modal kerja [neto] ini dapat mudah dipahami bagaimana menentukan kebijakan pembiayaan jangka pendek.

Jika NWC menurun maka laba cenderung meningkat.  Tetapi pada saat yang sama juga risiko likuiditas meningkat.  Dengan demikian kebijakan pembiayaan jangka pendek akan berdampak pada NWC yang akhirnya melibatkan perimbangan antara risiko dan pengembalian [risk-return trade off].

Working Capital Management and Risk-Return Trade Off

  • Investasi pada sekuritas jangka pendek dan inventory:
  •          Profitability:  lebih rendah,  Liquidity:  lebih tinggi.
  • Meningkatkan penggunaan sumber pembiayaan jangka pendek dibanding jangka panjang:
  •          Profitability:  lebih tinggi,  Liquidity:  lebih rendah.

 Daam pengelolaan modal kerja terjadi dilema antara tuntutan likuiditas dan profitabilitas [risk-return trade off].

NWC dapat ditingkatkan melalui: 

  1. menambah Current Assets [CA] relatif terhadap Current Liability [CL] (menyimpan lebih banyak inventory atau surat berharga jangka pendek); atau
  2. mengurangi CL relatif terhadap CA (menambah penggunaan sumber pembiayaan jangka panjang dibandingkan dengan jangka pendek).

Peningkatan modal kerja melalui penambahan CA akan menghindari risiko terhentinya produksi dan kegagalan penjualan karena kurangnya persediaan.  Namun profitabilitas pada CA ini rendah, maka profitabilitas perusahaan akan menurun.

Dengan meningkatkan sumber pembiayaan jangka pendek (misalnya notes payable) dibandingkan dengan sumber jangka panjang (long-term debt), akan dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan karena biaya bunga sumber jangka pendek lebih murah karena masa penggunaan lebih pendek.  Sedangkan sumber pembiayaan jangka panjang mempunyai beban bunga lebih mahal, karena jangka waktu lebih lama.

Namun penggunaan sumber pembiayaan jangka pendek akan menghadapi risiko likuiditas di mana kemungkinan perusahaan tidak mampu membayar kewajiban-kewajibannya yang segera jatuh tempo (kewajiban jangka pendek).

Menentukan Kebutuhan Modal Kerja Yang Tepat

Mengelola modal kerja neto perusahaan (sisi likuiditasnya) melibatkan keputusan tentang investasi pada CA dan CL secara simultan dan saling berhubungan.  Untuk menentukan berapa besarnya kebutuhan modal kerja [likuiditas] tersebut bisa digunakan prinsip hedging atau self-liquidating debt.

Hedging Principles

Prinsip hedging:  mencocokkan antara karakteristik suatu aset dalam menghasilkan uang dengan jangka waktu pengembalian dari sumber keuangan yang dipakai untuk membiayai aset tersebut.

Logikanya adalah: dana hanya diperlukan untuk jangka waktu tertentu dan jika masa itu telah lewat, uang yang dipakai untuk membayar pinjaman akan dihasilkan dari penjualan tambahan persediaan itu.

Bila pembiayaan tersebut dari sumber jangka panjang, maka perusahaan masih memiliki dana sampai sesudah tambahan persediaan itu terjual, akibatnya perusahaan akan kelebihan likuiditas yang akan disimpan dalam surat berharga dengan tingkat return rendah sampai saat musim itu datang dan perusahaan membutuhkan dana lagi, akibatnya kondisi ini akan menurunkan profitabilitas perusahaan.

Permanent and Temporary Assets

Ide dari mencocokkan lamanya jatuh tempo pada prinsip hedging akan memberikan pengertian tentang pentingnya memahami penggolongan jenis aset yang lain, yaitu:  Aset Permanen dan Aset Temporer.

Permanent Assets [aset permanen]:  investasi pada aset yang dipertahankan dalam jangka waktu lebih dari 1 tahun, misalnya adalah investasi pada saldo minimum dari aset lancar [CA], di samping investasi pada aset tetap [FA].

Temporary Assets [aset temporer]:  bagian dari aset lancar [CA] yang akan dijual dalam periode berjalan.  Jadi aset perusahaan terdiri dari aset permanen dan aset temporer.

Temporary, Permanent and Spontaneous of Financing

Dari total aset yang dimiliki perusahaan akan dibiayai dari sumber-sumber yang meliputi sumber pembiayaan temporer, permanen, dan spontan.

Temporary Financing [sumber pembiayaan temporer]:  terdiri dari kewajiban lancar berupa short-term notes payable [hutang bank jangka pendek] tanpa jaminan, commercial paper, dan pinjaman yang dijamin oleh persediaan atau piutang (factoring).

Permanent Financing [sumber pembiayaan permanen]:  meliputi intermediate-term loan, long-term debt, preferred stock dan common stock.

Spontaneous Financing [sumber pembiayaan spontan]:  terdiri dari utang dagang (account payable) dan utang-utang lain yang timbul dari operasi perusahaan sehari-hari, misal:  utang gaji, bunga, dan pajak yang diakui di muka [accrued].

Prinsip hedging dapat digambarkan sebagai berikut:  Kebutuhan aset yang tidak dibiayai oleh sumber spontan harus dibiayai sesuai dengan aturan sebagai berikut:  investasi aset permanen harus dibiayai dengan sumber-sumber permanen dan investasi termporer dibiayai dengan sumber-sumber temporer.

Gambar 1  Ilustrasi grafik Prinsip Hedging.

Cash Conversion Cycle

Prinsip yang umum dalam pengelolaan modal kerja adalah meminimalkan modal kerja dengan syarat modal kerja tersebut harus cukup untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan.

Sebagai ukuran efektivitas pengelolaan modal kerja ada 3 hal yang harus dilakukan:

  1. mempercepat penagihan [collection],
  2. meningkatkan perputaran persediaan, dan
  3. mengurangi pembiayaan kas.

  Untuk ketiga hal tersebut dapat digunakan ukuran Cash Conversion Cycle [CCC].

  • CCC  =  Inventory Conversion Period [ICP] + Days Sales of Outstanding [DPO] – Days of Payable
  • ICP  =  [Inventory/(COGS/360)] hari
  • DSO  =  [Receivables/(Sales/360)] hari
  • DPO  =  [Accounts Payable/(COGS/360)]

Semakin besar CCC, semakin tinggi kebutuhan Modal Kerja.  Untuk menurunkan CCC dapat dilakukan dengan cara:

  1. mempercepat ICP;
  2. mempercepat DSO; dan
  3. menunda DPO.

Contoh:  Diketahui periode pemrosesan inventory (ICP) = 45 hari, periode penagihan piutang (DSO) = 30 hari, dan periode pembayaran utang (DPO) = 15 hari.  Maka dapat diketahui:

  • CCC  =  45 + 30 – 15 hari
  •           =  60 hari

Jika diketahui kebutuhan modal kerja untuk membiayai kegiatan perusahaan sehari-hari sebesar Rp. 10 jt maka kebutuhan modal kerja per periode adalah Rp. 600 jt dengan perhitungan  [60 hari x Rp. 10 jt].

Jika pihak suplier dapat memberikan tambahan waktu penundaan pembayaran utang selama 15 hari lagi maka CCC yang baru adalah:

  • CCC  =  45 + 30 – (15+15) hari
  •           =  45 hari

Kebutuhan modal kerja yang baru = 45 hari x Rp. 10 juta

… to be continued.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: